Membuat Tungku Peleburan Logam Memanfaatkan Oli Bekas Sebagai Bahan Bakar

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN TUNGKU PELEBURAN LOGAM DENGAN MEMANFAATKAN OLI BEKAS SEBAGAI BAHAN BAKAR

Penulis:  Akhyar
akhyarhasan@yahoo.com
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala

 

ABSTRAK

Oli bekas salah satu limbah cair yang dihasilkan oleh mesin baik mesin di industri besar maupun mesin kendaraan pribadi. Oli tersebut masih dapat digunakan antara lain salah satunya adalah
sebagai bahan bakar khususnya bagi tungku peleburan logam. Untuk menjawab permasalahan diatas, maka dalam penelitian ini akan dirancang dan dibuat tungku peleburan logam dengan memanfaatkan limbah cair oli bekas tersebut sebagai bahan bakar. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan industri lokal berbasis
home industry dalam mendaur ulang logam bekas dengan
titik lebur rendah melalui teknologi peleburan dan pengecoran logam. Metode yang digunakanadalah perlakuan atomizing
pada oli bekas sehingga mudah terbakar. Hasil yang didapat ad
alah oli bekas dapat di atomizingmelalui tekanan udara menggunakan kompresor. Kesimpulannya adalah tungku peleburan logam berbahan bakar oli bekas mampu melebur logam aluminium bekas, sehingga tungku peleburan logam oli bekas tersebut dapat digunakan pada home industry dalam mendaur ulang logam aluminium bekas.
Kata Kunci: Pengecoran logam, tungku oli bekas, atomizing
I.  Pendahuluan
Limbah merupakan permasalahan utama setiap daerah baik di dunia maupun di Indonesia. Limbah dapat dibedakan dalam berbagai kategori, diantaranya limbah cair dan limbah padat. Oli bekas salah satu limbah cair yang dihasilkan oleh mesin, baik mesin di industri besar maupun mesin kendaraan pribadi.  Saat ini khususnya di belum optimalnya penggunaan limbah oli untuk diolah kembali oleh masyarakat, industri, maupun pemerintah, sehingga limbah oli tersebut tidak memiliki nilai ekonomis. Seperti halnya oli bekas,
penggunaannya saat ini hanya untuk danpelumasan elemen-elemen permesinan yang berputar seperti rantai kendaraan motor, sepeda,
melapisi kayu seperti pagar rumah agar tahan lama, dan sebagainya. Padahal oli tersebut masih dapat digunakan antara lain salah satunya adalah sebagai bahan bakar khususnya bagi tungku/dapur peleburan logam. Proses peleburan dan pengecoran logam
untuk mengubah logam dari fasa padat menjadi fasa cair akan menggunakan suatu tungku peleburan yang mana material bahan baku logam serta jenis tungku yang akan digunakan tentunya harus disesuaikan dengan jenis serta jumlah material yang akan dilebur [1].
Pemilihan tungku peleburan yang akan digunakan untuk mencairkan logam harus sesuai dengan bahan baku yang akan dilebur.
Paduan alumunium, paduan tembaga, paduan timah hitam, dan paduan ringan lainnya biasanya dilebur dengan menggunakan tungku peleburan jenis crusible, sedangkan untuk besi
cor menggunakan tungku induksi frekwensi rendah atau kupola. Tungku induksi frekwensi tinggi biasanya digunakan untuk melebur baja dan material tahan temperatur tinggi [2].
Faktor-faktor pemilihan tungku antara lain seperti jenis logam yang akan dicor, desain temperatur lebur dan temperatur penuangan,
kemampuan atau kapasitas tungku yang mampu dilebur, biaya operasi yang dibutuhkan, kemudahan pengoperasian, kemudahan
perawatan, dan polusi terhadap lingkungan [3].
Mubarak dan Akhyar [4], telah membangun tungku peleburan logam dengan menggunakan bahan bakar gas LPG, dalam penelitian tersebut di lakukan pengujian lebur aluminum bekas. Hasil yang diperoleh adalah logam aluminium dapat melebur, akan tetapi
logam aluminium bekas tersebut saat dileburkan tidak mencair secara sempurna.  Masih terdapat fasa pada diantara fasa cair serta
untuk mencairkan aluminium dengan melting point sekitar 660ºC
skema desain dapur peleburan logam oli bekas
(a)
Skema ladel di ruang bakar
(b)
skema dapur
(c)

Gambar 1. (a) skema desain dapur peleburan logam oli bekas,
(b) skema ladel di ruang bakar, (c) skema dapur.

membutuhkan waktu antara 2 sampai 3 jam. Sehingga dari pembahasan diatas sangat diperlukan penyelesaian tentang cara
pemanfaatan limbah oli bekas untuk bahan bakar alternatif, murah, mudah didapat, menggunakan tungku peleburan logam. Tungku
peleburan tersebut dapat dimanfaatkan oleh industri kecil menengah dalam mendaur ulang logam dengan titik lebur rendah. Manfaat lainnya adalah dapat meningkatkan nilai ekonomis oli bekas, dan dapat menumbuhkan ekonomi masyarakat. Maka tujuan penelitian ini adalah untuk merancang dan membuat burner agar dapat mengubah fasa cair dari oli bekas menjadi fasa gas melalui teknik pengkabutan atau atomizing. Hal ini disebabkan oleh oli bekas tidak mudah terbakar jika masih dalam fasa cair kerena oli bekas tersebut mempunyai nilai visikositas yang tinggi.
Tujuan lainnya adalah merancang dan membangun tungku peleburan logam oli bekas dengan cara memproteksi panas di ruang bakar agar dapat mencapai suhu tinggi sehingga dapat meleburkan material logam aluminium bekas.
II.  Metode Penelitian
Tahapan proses pelaksanaan penelitian antara lain:
  1. Desain tungku peleburan ogam dengan bahan bakar oli bekas dengan dimensi antara lain panjang 355 mm, lebar 455 mm, dan tinggi 260 mm. Konstruksi dari Crucible dan sebuah cawan pelebur yang terletak ditengah-tengah sebuah silinder stainless steel, dinding tungku peleburan logam dilapisi dengan bata tahan api untuk memproteksi panas dari ruang bakar dapat dilihat pada skema gambar 1 a, b, dan c.
  2. Persiapan alat dan bahan yang diperlukan antara lain:
    Alat:   mesin las, gerinda, gergaji, sedok semen. Bahan: batang stainless steel ø 6mm, pipa stainless steel ø 2,5 inc, pipa stainless steel ø 3 inc, Plat stainless steel 2 mm, batu dan semen castable tipe SK-32, tabung oli, selang/pipa.
  3. Membangun burner untuk atomizing oli bekas dapat dilihat pada gambar 2.
    Gambar 2. Oli bekas dicampur solar untuk pembakaran awal.
  4. Membangun tungku peleburan logam dengan bahan bakar oli bekas dengan dinding bata dan semen castable sebagai proteksi panas pada ruang bakar, dapat dilihat pada gambar 3.
    Gambar 3. Membangun tungku peleburan logam.
  5. Proses peleburan aluminium menggunakan tungku peleburan logam oli bekas antara lain pada awalnya diperlukan solar untuk
    mencairkan oli bekas yang kental agar mudah terbakar (gambar 2). Selanjutnya jika burner sudah mulai panas tidak diperlukan
    solar lagi. Atomizing oli bekas dapat dilakukan dengan menggunakan udara bertekanan dari kompresor. Burner disetting di bawah tungku pada ruang bakar selanjutnya kaleng aluminium dipotong kecil-kecil agar mudah diamasukkan ke dalam ladel, selanjutnya ladel dimasukkan kedalam ruang bakar untuk meleburkan material logam aluminium tersebut.
  6. Penuangan kedalam cetakan dilakukan setelah logam aluminium mencair untuk meghasilkan produk pengecoran. Logam cair tersebut dituang ke dalam cetakan logam yang berbentuk produk tertentu, seperti wajan, souvenir, atau lainnya (gambar 4).
    Gambar 4. Penuangan kedalam cetakan logam.

III.  Hasil dan Pembahasan

Tungku yang digunakan untuk peleburan logam ini dirancang untuk melebur logam dengan suhu rendah seperti alumunium. Tungku ini memakai bahan bakar oli bekas untuk memanasi sebuah cawan lebur ditengah-tengah ruang bakar yang dindingnya dilapisi
dengan susunan batu bata tahan api.  Ada beberapa komponen penting yang menjadi pertimbangan penting dalam proses perancangan.

Ladel
Perancangan ladel didasarkan atas kapasitas dari logam yang dapat dileburkan (gambar 5.a).  Berdasarkan analisis, pada perencanaan ini ladel lebur yang dibuat dari pipa stainless dengan ukuran diameter 100 mm,tebal 3 mm dan tinggi 185 mm. pada bagian atas pipa stainless tersebut dibuat berlubang sedangkan bagian bawah dibuat alas atau tertutup. Kapasitas dari Aluminium cair yang dapat ditampung di dalam ladel lebur sebesar 1,47 liter (gambar 5.b).
(a)(b)
Gambar 5. (a) Perancangan ladel, dan (b) ladel yang telah dibuat.

Burner
Oli bekas masih memiliki visikositas yang tinggi dan tidak mudah terbakar, sehingga perlu perancangan burner yang baik untuk melakukan atomizing oli bekas agar dapat terbakar dengan mudah.
Atomizing atau pengkabutan dapat dilakukan menggunakan udara bertekanan yaitu dengan kompresor, sehingga terdapat dua selang yang mengarah ke ruang pencampuran yaitu selang oli dan selang
kompresor.

Tungku Peleburan
Tungku peleburan terbuat dari bata dan semen castable pada dinding tungku dan casingnya dilapisi dengan plat stainless steel. Setelah tungku terakit dan selesai dibuat maka tungku tersebut dapat dikeringkan selama 1 hari, setelah 1 hari baru tungku dapat digunakan untuk peleburan dan proses pengecoran (gambar 6).
Gambar 6. proses pembuatan tungku peleburan logam.

Uji Peleburan
Uji peleburan pada material kaleng aluminium bekas untuk dileburkan kembali menggunakan tungku peleburan gas LPG,
seperti terlihat pada gambar 7 (a) dan (b).  Burner di setting dibawah tungku pada ruang bakar selanjutnya kaleng aluminium bekas dipotong kecil-kecil agar mudah dimasukkan ke dalam ladel, selanjutnya ladel dimasukkan kedalam ruang bakar untuk meleburkan material logam bekas kaleng aluminium tersebut.
(a)
(b)
Gambar 7. (a) Material logam aluminium bekas siap dilebur dalam ladel dan ruang bakar, dan (b) proses peleburan logam aluminium bekas.

Waktu yang diperlukan untuk meleburkan 1 kg Aluminium diperoleh secara langsung saat pengujian dengan menggunakan stopwatch, dari penelitian di-peroleh waktu peleburan 54 menit 32 detik.

Penuangan
Setelah logam kaleng aluminium bekas mencair maka untuk menghasilkan produk-produk tertentu cairan logam tersebut dituang ke dalam cetakan logam yang berbentuk produk tertentu, seperti wajan, souvenir, atau lainnya (gambar 8).
Gambar 8. Penuangan logam aluminium cair ke dalam cetakan.

Kelebihan
Beberapa kelebihan tungku peleburan logam bahan bakar oli bekas adalah:

  1. Ramah lingkungan karena memanfaatkan bahan bekas yaitu logam aluminium bekas dan oli bekas.
  2. Portable atau mudah dipindahpindahkan kerena bentuk serta ukuran tungku kecil.
  3. Harga pembuatan murah dibandingkan dengan tungku yang tersedia di pasaran.
  4. Cocok untuk industri peleburan logam skala rumah tangga (kecil-menengah).
  5. Mudah pengoperasiannya.
  6. Meningkatkan ekonomi masyarakat (pengrajin/home industry dan pengumpul rongsokan), karena tungku tersebut dapat dipergunakan untuk industri-industri peleburan.

Kelemahan
Beberapa kelemahan dari tungku peleburan dengan bahan bakar oli bekas antara lain:

  1. Membutuhkan bahan bakar lain (dalam hal ini solar) saat awal menghidupkan burner, hal ini disebabkan oli memiliki tingkat kekentalan (viscosity) yang tinggi sehingga tidak mudah terbakar
    sebelum panas burnernya.
  2. Perlu sering mengecek saluran oli dari tersumbat, hal ini disebabkan oleh pengotor dari bahan bakar oli bekas.
  3. Asap yang dihasilkan dari hasil pembakaran oli bekas berwarna hitam.

IV.  Kesimpulan

Analisa Data hasil pengujian, maka ruang bakar adalah tempat dimana nyala api membakar dinding cawan. Ruang ini merupakan bagian paling penting dalam perancangan. Panas di dalam ruang bakar harus bisa diisolasi dengan sebaik mungkin untuk mengurangi kerugian panas dan menghemat bahan bakar. Ruang bakar ini dindingnya dilapisi dengan batu bata tahan api yang diikat dengan semen tahan api, agar pada proses pembakaran terjadi suhu panas dari pembakaran yang keluar tidak terlalu besar. Ruang pembakaran dirancang kecil sebesar ladel agar proses pemanasan menjadi efektif.
Peleburan logam alumunium menunjukkan bahwa 1 kg alumunium
mampu dilakukan peleburan selama 50 menit 32 detik. Oli bekas sebagai bahan bakar yang terpakai dalam proses peleburan 1 kg alumunium adalah ½ liter.

Acknowledgements
Penelitian ini didanai oleh Universitas Syiah Kuala, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sesuai dengan Surat Perjanjian
Penugasan Dalam Rangka Pelaksanaan Penelitian Dosen Muda Tahun Anggaran 2014 Nomor : 069/UN11.2/LT/SP3/2014 tanggal 05 Mei 2014.
Terima Kasih atas sumbangan pikiran dan tenaga kepada Sarwo Edhy, Masri Ali, Fuadinur, dan Azwani.

DAFTAR PUSTAKA

  • [1]  Ana, G., Wanga, Y., Lia, W., Liub, J., 2012, “Research on key designing parameters of destruction furnace for explosive waste”, ProcediaEnvironmental Sciences 16 – Science Direct, pp. 202- 207.
  • [2] Akuan, A., 2009. “Tungku Peleburan Logam”, Universitas Jendral Ahmad Yani, Bandung.
  • [3] Hill, R., C., 1979, “Design, Construction and Performance of
    Stick-Wood Fire Furnace for Residental and Commercial
    Application” University of Maine Orono, Maine, pp. 1- 7.
  • [4] Mubarak, A., Z., dan Akhyar, 2013, “Perancangan dan Pembuatan Dapur Peleburan Logam dengan Menggunakan Bahan Bakar Gas (LPG)” Jurnal Teknik Mesin Unsyiah, Vol. 1, No. 3 Juni 2013 pp. 128-132.

Save

Save

Save